18 june 08
Our project is now in full speed progress.
What is going on?
After a month wondering around, sketching, collecting, and ideas in the head, we
found ourselves in the middle of all kinds off artworks in progress.
The issue of finding and starting an artspace here in Yogya is not relevant anymore.
The process of finding a location is turned in to the process of meeting Yogya in different facets. Instead of inviting people from the art scene and others to our so called new location we are visiting them and have started up several collaborations this way.
We also find out that being in Yogya, Indonesia, is so very much demanding our personal attention and personal research (also artistic self research) that we decided to follow our own process in developing our work. Our work will meet again in already planned exhibitions.
One exhibition will be at Cemeti Art House and the other one will be a kind of event in Kinoki ( an art space which is focussing on film, but has also all kinds off other artistic activities). For Cemeti we are both making installations. There for we are working with several specialist.

Sakrip and Ellen discussing work

Sakrip shows the progression of Maartens work.
Mr Sakrip works on the silicone and raisin part, Hedi Harianto is a sculptor who works with wood and who works also for other artists.
Capung Kencana is in furniture and will work on a design for Maarten.
For Kinoki we are preparing QuickTime movies, photo’s and sculptures, while our assistant Gentong is arranging all the activities off us and connect them with invited artists. Several artists have already agree to contribute in divers way. Also our children will join in and do there own contribution. (its still a surprise)
Maarten is also in negotiation with our neighbour, who has this beautiful old Javanese house,
about using his property as a location for one of his ‘light works’
The negotiation turns out to be part of the process of realising the artwork.
Beside this work in progress: we have planned a presentation and discussion in Semarang ( 4 hours drive) (laptob and beamer) arranged by a gallery. And we planned such also in Solo (1 hour drive).
Arranging all this is one of the work we do, keeping up the weblog and working in the studio to refine our idea’s is the other part. Of course we have our frustrations sometimes, at the other hand when you go with the Javanese flow you’ll discover the unexpected.
Gentong our assistant is noticing this very well. He came up with the yell: Unintentional Design. (coming from the book with the same title. One of the subjects slogans: children are the champions at changing all conceivable objects for their own joy and play, though they only ever do this to satisfy the moment, not the future.
I think Gentong is observing our activities (including our children) in a remarkable way. Its always surprising with what he comes up with, although its for us not really new information, it’s the context which makes that we look at it in an other way.
Daily Life III
Just an impression of the last week.
13 june. Teide was celebrating his birthday ( 9 years old). One day before we found ourselves in the
situation that almost 20 people were coming to his party. It worked out very well in I think the Javanese way. The evening before several people were busy to find someone who could prepare lunch. The next day we had this Javanese birthday speciality: Tumpeng. A beautifull mountain of yellow rice and all kinds off dilicious foods around it. (made by Tri, chef by Mella and Hani’s and for the next three weeks also our lunch chef).
Then we had this special birthday cake from this terriffic bakery Hani’s.
Everybody including the children had a good time. First with the supersokers of Wimo and later with the heavy tropical rain.
In the evening we went to a Mime play at LIP (french cultural center). This was so inspiring for te children that the next day the copied the mime everywhere.
At sunday the 15th
the children went out in the morning up untill the evening to a schoolfriend. We spend the afternoon and a part of the evening to speak with Sudjud Dartanto. This is the work we have to do for the catalogues. Sudjud will be the writer so made a start to introduce him in our work in progress and our background.
monday 16 june
First thing in the morning: bringing a week of laundry ( 4 plastic bags) to the laundry.
Then getting bread for breakfast. After that I went with Gentong to Progo ( a huge plastic shop) Each time its a surprise how the transport will be. Today we choose the becak. I had to collect many materials for the work shop next week in Yakkum. After progo we walked to Apeco ( a small shop for paint) . It sounds exaggerrated but these two shoppings where exhausting. I can’t explain in short lines why.
When we got back The children were all exited about the fact that they were having a bajing today. To organize that is a story by itself. This bajing issue is already for a long time there.
Today Benny and Oka ( a couple who is taking care of the children several times a week) went out for buying a bajing at the bird market. I am glad that they didn’t came home with something else, like a snake or a monkey ( all available there). after getting a 3 month old cute

little bajing the went out again for a cage. So now we have another new habitant in the studio. In the evening We went with Oka and Benny an d the children to Tante Lies ( a warung ) to eat. Maarten and I took the becak from there to The Taman Budaya for a dance performance of Rotterdam Dance Works, and before that we visited the First Jogja art fair.
Next day I went with Miranda to the immigration office to prolong our visa. That took the whole morning. (although this is annoying, the other side is, that Miranda and I could talk during the bus tour and during waiting time, a lot about all kinds of subjects.
That the whole issue here. Everything looks inefficient but you can use it and turn it into a profit in other sense.
posted by Ellen
Perpaduan Bekerja dan Bersenang-senang II
18 Juni 08
Proyek kami sekarang mengalami kemajuan yang pesat.
Apa yang terjadi?
Setelah satu bulan keluyuran, membuat sketsa, mengumpulkan ide-ide dalam kepala, akhirnya kami mencapai kemajuan dalam tahap berkesenian kami.
Permasalahan tentang menemukan dan memulai sebuah kawasan seni di Yogya sudah tidak relevan lagi.
Proses menemukan lokasi berubah menjadi proses menjumpai beragam wajah Yogya. Alih-alih mengundang seniman ke tempat baru kami, justru kamilah yang mendatangi mereka dan memulai kolaborasi dengan cara ini.
Kami juga menyadari bahwa berada di Yogya, Indonesia, sangat tergantung pada perhatian dan riset personal kami (juga riset artistik) sehingga kami memutuskan untuk mengikuti proses kami sendiri dalam pengembangan karya kami. Karya kami akan dipertemukan lagi pada pameran yang sudah direncanakan.
Satu pameran diadakan di Rumah Seni Cemeti dan satu lagi menjadi bagian dari even di Kinoki (kawasan seni yang fokus tentang film, tetapi juga memberi perhatian pada aktivitas artistik). Untuk Cemeti kami berdua membuat instalasi. Ada beberapa orang yang spesialis yang bekerja bersama kami. Pak Sagrip yang menggarap bagian silikon dan raisin, Hedi Harianto adalah pemahat yang menggarap kayu dan juga bekerja untuk seniman lain. Capung Kencana mengerjakan perabotan dan desain untuk Maarten.
Untuk Kinoki kami mempersiapkan film-film ‘QuickTime’, foto-foto dan patung-patung, sementara asisten kami, Gentong mengatur semua kegiatan kami dan menyesuaikan dengan seniman-seniman yang diundang. Beberapa seniman sudah setuju untuk memberikan kontribusinya. Anak-anak kami juga akan bergabung dan berkontribusi (wujudnya masih rahasia)
Maarten juga tengah bernegosiasi dengan tetangga kami, yang mempunyai rumah model Jawa yang sangat bagus, untuk menggunakan rumahnya sebagai lokasi salah satu ‘karya cahaya’nya.
Negosiasi ini adalah salah satu bagian dalam merealisasikan karya seni.
Selain kemajuan yang telah disebutkan tadi, kami merencanakan presentasi dan diskusi di Semarang ( 4 jam berkendara jauhnya), laptop dan beamer disediakan oleh galeri. Dan kami juga merencanakan kegiatan serupa di Solo (1 jam berkendara).
Di satu pihak, kami mempersiapkan karya-karya kami, menulis weblog dan bekerja di studio untuk mengembangkan ide kami. Tentunya terkadang kami frustasi juga, di lain pihak ketika kau mengikuti arus orang Jawa, kau akan menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka.
Gentong asisten kami memperhatikan hal ini. Ia menemukan slogan: Desain Tak Sengaja (Unintentional Design), yang berasal dari buku dengan judul sama. Salah satu slogannya yaitu: anak-anak adalah jagonya mengubah segala macam benda menjadi hal-hal yang mereka sukai dan mereka mainkan, biarpun mereka hanya melakukan ini untuk kesenangan sesaat, bukan untuk seterusnya.
Kurasa Gentong mengamati aktivitas kami (termasuk anak-anak kami) dengan cara yang luar biasa. Dia selalu muncul dengan hal-hal yang mengejutkan, biarpun bagi kami hal-hal tersebut sebenarnya bukanlah hal baru, namun konteksnya yang membuat kami melihatnya dari sudut pandang yang lain.
Kehidupan Sehari-hari III
Hanyalah kesan dari minggu kemarin.
13 Juni, Teide merayakan ulang tahunnya yang ke-9. Satu hari sebelumnya kami mengetahui bahwa hampir 20 orang akan datang ke pesta. Kurasa ini bisa berjalan dengan baik kalau menurut cara orang Jawa. Malam sebelumnya orang-orang sibuk mencari sesorang yang bisa menyiapkan makan siang. Hari selanjutnya kami merayakan pesta ulang tahun dengan adat Jawa yaitu Tumpeng. Nasi kuning berbentuk gunung dengan berbagai macam makanan enak di sekelilingnya. (Dibuat oleh Tri, juru masak Mella dan Hani, yang selama tiga minggu ke depan juga menjadi juru masak makan siang kami.)
Kemudian kami menikmati kue ulang tahun dari toko kue Hani.
Semua orang, termasuk anak-anak, sangat menikmati pestanya. Pertama karena Wimo dan kemudian karena hujan tropis yang lebat.
Malam harinya kami menonton pertunjukan pantomim di Lembaga Indonesia Perancis. Pertunjukan ini sangat membekas dalam benak anak-anak, bahkan sampai keesokan harinya mereka masih menirukan pantomim tersebut.
Minggu 15 Juni
Anak-anak pergi ke rumah teman sekolah mereka sampai malam. Kami menghabiskan sesorean dan malam harinya berbincang-bincang dengan Sudjud Dartanto, tentang apa yang harus kami lakukan untuk katalog. Sudjud akan menjadi penulisnya sehingga kami mulai mengenalkannya pada karya yang sedang kami kerjakan dan juga latar belakang kami.
Senin16 Juni
Hal pertama yang dilakukan pagi ini: membawa cucian seminggu (4 kantong plastik) ke laundry. Kemudian mencari roti untuk sarapan. Setelah itu aku dan Gentong pergi ke Progo (toko besar yang menjual barang-barang plastik). Alat transportasi selalu menjadi kejutan. Hari ini kami memilih becak. Aku harus mengumpulkan banyak bahan untuk workshop di Yakkum minggu depan. Dari Progo kami berjalan ke Apeco (toko kecil yang menjual alat lukis dan cat). Kedengarannya berlebihan, tapi berbelanja di dua tempat ini sangat melelahkan. Aku tidak bisa menjelaskannya secara singkat.
Ketika kami kembali, anak-anak sangat bersemangat karena kami akan membeli seekor bajing hari ini. Bagaimana ceritanya itu lain soal. Permasalahan bajing ini sudah ada muncul sejak lama.
Hari ini Benny dan Oka (pasangan yang menjaga anak-anak beberapa kali dalam seminggu) pergi untuk membeli bajing di pasar burung. Aku senang mereka tidak pulang dengan hewan yang lain, seperti ular atau monyet (yang juga tersedia di pasar tersebut). Setelah mendapatkan bajing berumur 3 bulan yang imut, mereka pergi lagi untuk membeli kandang. Jadi sekarang ada penghuni baru di studio.
Kami pergi dengan Oka, Benny dan anak-anak ke Tante Lies (sebuah warung) untuk makan. Maarten dan aku naik becak ke Taman Budaya untuk menonton pertunjukan tari dari Rotterdam Dance Works, sebelumnya kami mengunjungi Pasar Raya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).
Keesokan harinya aku pergi dengan Miranda ke kantor imigrasi untuk memperpanjang visa kami. Ini berlangsung seharian. (Meskipun menjengkelkan, tapi di pihak lain aku dan Miranda dapat mengobrolkan banyak hal di dalam bis dan saat menunggu.)
Jadi demikianlah. Semuanya tampak tidak efisien, tetapi kau dapat menggunakannya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan untuk hal lain.
Ditulis oleh Ellen